kabar islam terkini


Penolakan Yusuf Islam, Sikap Diskriminatif AS

Posted in Blogroll,Uncategorized by islamkini on 17 September 2006

Pikiran Rakyat Minggu, 26 September 2004

AMERIKA Serikat menolak kedatangan Yusuf Islam. Otoritas keamanan AS menyatakan, penggerak dakwah Islam asal Inggris itu masuk “daftar hitam” sehingga berbahaya bagi keamanan nasional. Walaupun tidak dijelaskan apa yang dimaksud “daftar hitam”, berbagai kalangan sudah bisa menduga apa yang dimaksud. Otoritas AS kemungkinan menganggap Yusuf Islam sebagai teroris. Jika tidak sebagai anggota, sedikitnya sebagai simpatisan. Namun sayang, tak ada penjelasan resmi mengenai hal ini. Yang jelas, kebijakan umum pemerintah AS sejak tragedi 11 September 2001, mengandung unsur faitaccompli terhadap segala sesuatu dan siapa saja yang memiliki kaitan dengan dakwah Islam.

Yusuf Islam, yang memeluk agama Islam sejak tahun 1977, hidup tenang di Inggris. Ia mengabdikan waktu, ilmu, dan hartanya untuk membina komunitas Muslim Inggris, namun tiba-tiba harus mendapat perlakuan yang menyakitkan. Padahal, ketika ia masih bernama Cat Stevens, berjaya di gelanggang musik pop dan mengusung grup rock The Cat, ia selalu mendapat sambutan meriah dari para fansnya di kota-kota seluruh Amerika.

Setelah menyandang nama Islam, Yusuf justru dilarang masuk. Bahkan pesawat yang ditumpanginya menuju Washington, dialihkan ke Maine, di timur laut AS, ribuan kilometer dari ibu kota negara “panglima demokrasi” tersebut, dan langsung diterbangkan kembali ke luar AS.

Perlakuan serupa, pernah dialami Yusuf Islam di Israel tahun 1999. Ia dideportasi dari negara Zionis itu, karena dituduh mendukung Harakah Muqawwamah al Islamiyah (Hamas), kelompok garis keras Muslim Palestina yang paling anti-Israel. Yusuf Islam datang ke Israel untuk tujuan ziarah ke Jerusalem Timur, terutama Masjidil Aqsa dan menjalin silaturahmi dengan lembaga-lembaga penyantun anak-anak Palestina korban perang. Ia berencana mengunjungi kamp-kamp pengungsi Palestina di beberapa kota Tepi Barat dan Jalur Gaza. Namun, sebelum maksudnya kesampaian, begitu tiba di bandar udara Ben Gurion, Tel Aviv, ia langsung disergap pasukan Sin Beth (polisi rahasia Israel) dan dibawa ke sebuah pesawat menuju Nicosia Siprus.

Para aktivis persaudaraan Islam lintas negara pada waktu itu mengecam tindakan Israel, apalagi Israel merupakan negara rasis dan rasialis, sama sekali tidak mengindahkan tatanan demokrasi dan kebebasan.

Kebijakannya selalu serbamiliteristik dan dogmatis. Justru mereka merasa heran oleh tindakan AS sekarang, yang konon sangat menghargai kemajemukan, perbedaan ras dan agama, serta demokratis. Menurut mereka, menuduh Yusuf Islam sebagai teroris hanya karena ia seorang Muslim, sangat berbahaya bagi kelangsungan peradaban masa depan.

Selama ini, Yusuf Islam lebih terkenal sebagai pendidik di kalangan komunitas Muslim Inggris, dan tidak pernah terlibat aktivitas politik apa pun. Bakat dan keahliannya sebagai musikus, pemain gitar dan pencipta lagu, disalurkan untuk kepentingan syiar Islam. Ia merilis rekaman lagu religius, bertemakan sirah Nabawiyah (Sejarah Hidup Nabi Muhammad saw.) Salah satu di antaranya berjudul The Life of the Last Prophet, rekamannya berdurasi 66 menit, berbentuk kaset dan CD, dilengkapi buku mungil setebal 40 halaman.

Kepada Juliet Highet yang mewawancarainya untuk majalah Royal Wings edisi November-Desember 1996, Yusuf Islam menyatakan, rekaman tersebut merupakan bantahan kepada Salman Rushdi yang melecehkan Nabi Muhammad saw. melalui novel The Satanic Verses (1989).

“Rushdi memunyai keunggulan atas nama kebebasan mencipta, menulis, dan mengeluarkan pendapat. Semua orang berpihak kepadanya. Sementara orang-orang yang menentangnya, termasuk Ayatullah Khomeini, dikategorikan tiran, antidemokrasi, pelawan kreativitas dan sebagainya. Saya tidak ingin terlibat dalam polemik yang pasti akan dimenangkan barisan Salman Rushdi. Saya harus melawannya dengan wujud kreasi lain,” ujar Yusuf Islam.

The Life of the Last Prophet segera mendapat sambutan hangat di Inggris dan negara-negara Eropa. Komunitas Muslim Eropa menggunakan karya Yusuf Islam itu untuk memeriahkan pesta perkawinan, festival, dan acara-acara Islami lainnya. Pada bagian-bagian narasi terselip indah nyanyian tradisional Islam tatkala menyambut kedatangan Nabi Muhammad saw. hijrah dari Mekah, di pintu Kota Yatsrib (Madinah), yaitu thala’al badrun alayna (Telah Terbit Bulan Purnama).

“Inilah elemen penting dari karya rekaman saya paling mutakhir,” kata Yusuf Islam. “Elemen yang menunjukkan bagaimana sebenarnya musik Islami. Sebuah paduan harmoni tabuh-tabuhan yang amat serasi, namun tetap berada pada batas-batas tertentu. Batas kesadaran ingatan kepada Allah SWT.”

Yusuf Islam mengakui, The Life of the Last Prophet tidak akan sepopuler lagu-lagu top hit-nya semasa “jahiliyah”, seperti Wild Word, Morning Has Broken atau Moon Shadow, yang merajai dunia musik pop era 1970-an sebab sebagian konsumen The Life of the Last Prophet tentu amat terbatas di kalangan komunitas Muslim. Tetapi nilai barakah yang diperoleh dari royalti produksinya amat luar biasa.

Dan tak dapat disangkal, banyak peminat di luar Muslim yang menyukainya, semata-mata karena mutu dan corak musiknya saja. Bukan karena isi dan tujuannya.

Yusuf Islam, semula bernama Steven Demetre Georgiou. Lahir tahun 1948 di West End, London, dari ibu berkebangsaan Swedia dan ayah Jerman. Usia 20 tahun terjun ke dunia musik pop, dengan nama Cat Stevens di bawah panji grup musik The Cats yang mampu menyaingi nama besar The Beatles, Rolling Stone, dan lain-lain. Albumnya rata-rata terjual di atas angka 25 juta copy.

Tiba-tiba tahun 1977, ia beralih haluan. Memilih Islam sebagai jalan hidup dan kehidupan. Gemerlap panggung musik pop ditinggalkan jauh-jauh. Ia bergabung dengan komunitas Muslim Inggris. Mengabdikan diri sebagai pendidik pada Muslim Humanitarian Relief Work. Ia mengaku tertarik menjadi Muslim setelah mempelajari pendapat-pendapat para tokoh termashur non-Muslim di dunia tentang Islam. Antara lain pendapat Lamartine (filsuf Prancis), Bernard Shaw (sastrawan Irlandia), Mahatma Gandhi (tokoh perdamaian dari India). Mereka semua memuji Islam sebagai ajaran keselamatan. Memuji Nabi Muhammad saw. sebagai pejuang kemanusiaan.

Karena respek dan kecintaannya kepada Nabi Muhammad saw. yang terusir dari tanah kelahirannya Mekah sehingga harus hijrah ke Madinah, Yusuf Islam memandang peristiwa “pendeportasian” dari wilayah AS sebagai “miniatur” peristiwa hijrah. Oleh karena itu, ia merasa mendapat pencerahan baru.

“Minimal saya lebih mengerti, masih banyak orang yang salah menafsirkan Islam dan menganggap umat Islam sebagai teroris. Sebuah fenomena memprihatinkan, apalagi jika yang salah paham itu institusi negara sebesar AS,” papar Yusuf Islam sebagaimana dikutip situs jaringan One’s World for Islam. (H. Usep Romli HM)***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: